oleh

Studi Temukan Metode Baru Cegah HIV/AIDS

Kompaspagi.com – Penelitian terbaru berhasil menemukan metode anyar untuk mencegah infeksi HIV dan remisi atau pengurangan virus dalam jangka panjang. Dua kabar penting untuk melawan HIV ini dipaparkan dalam AIDS 2020, konferensi internasional AIDS ke-23.
Data UNAIDS menunjukkan, terdapat 38 juta orang hidup dengan HIV dan 1,7 juta diagnosis HIV baru di seluruh dunia pada 2019. Menurut PBB, terdapat 690 ribu kematian akibat AIDS pada 2019, menurun 39 persen dibandingkan 2010 karena penggunaan terapi antiretroviral dan obat-obatan yang mencegah infeksi baru.

Metode terbaru mencegah HIV itu adalah suntikan obat investigatif cabotegravir. Studi menemukan, suntikan obat investigatif cabotegravir yang diberikan setiap delapan minggu ini lebih efektif mencegah HIV dibandingkan pil oral setiap hari. Selama ini, mencegah HIV dilakukan dengan pil oral yang dikonsumsi setiap hari.

Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan efektivitas PrEP (obat oral harian Truvada) dengan injeksi cabotegravir yang berisi PrEP setiap delapan minggu. Hasilnya, suntikan itu 66 persen lebih efektif untuk mencegah HIV daripada obat oral.

Studi ini melibatkan lebih dari 4.500 pria cisgender dan wanita transgender yang berhubungan seks dengan pria di 43 lokasi di seluruh dunia.

Baik pil maupun bentuk injeksi ditemukan efektif mencegah HIV. Tingkat penularan HIV secara keseluruhan rendah, dengan 52 kasus di antara peserta. Sebanyak 39 orang yang menggunakan pil setiap hari tertular HIV dan 13 orang yang menerima suntikan tertular HIV.

Dikutip dari CNN, menurut abstrak penelitian, cabotegravir adalah suntikan PrEP HIV pertama yang terbukti efektif. Namun, suntikan ini masih belum disetujui oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) untuk pengobatan atau pencegahan HIV.

Suntikan dinilai dapat menjadi alternatif obat yang tidak memberatkan. Pasalnya, mengonsumsi pil setiap hari memiliki tantangan tersendiri.

Kendati demikian, studi ini belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review. Masih diperlukan penelaahan lebih lanjut mengenai hasil studi.

Hilangnya virus dalam jangka panjang
Tak hanya mengenai temuan metode pencegah infeksi HIV potensial, konferensi juga menyoroti temuan pasien HIV pertama yang mengalami remisi atau hilangnya virus dalam jangka panjang setelah dirawat dengan regimen obat antivirus.

Seorang pria asal Brasil disebut bakal menjadi orang pertama yang mengalami remisi. Pria Brasil itu didiagnosis terinfeksi HIV delapan tahun lalu dan tak memperlihatkan gejala-gejala infeksi virus saat ini.

Temuan terbaru ini hanya melibatkan satu pasien dan penelitian belum dipublikasikan. Pada awal penelitian, pria Brasil berusia 34 tahun itu merupakan 1 dari 30 peserta uji klinis penelitian mengenai pengobatan HIV.

Pria itu merupakan satu dari lima partisipan yang mendapatkan pemberian obat intensif berupa antiretroviral dengan dolutegravir dan maraviroc, nicotinamide, dan vitamin B3 selama 48 minggu. Setelah 57 minggu, peneliti tidak menemukan HIV dalam tes DNA.

“Meskipun masih merupakan kasus yang terisolasi, ini mungkin mewakili remisi HIV jangka panjang pertama tanpa transplantasi sel induk,” tulis para peneliti dalam abstrak.

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah akan ada temuan serupa pada orang lain yang menjalani pengobatan yang sama.

Penelitian sebelumnya mendapati pengurangan virus bisa dilakukan dengan transplantasi sel induk. Sejak AIDS mulai ditemukan pada 1980-an, baru terdapat dua orang yang dinyatakan bersih atau bebas dari virus HIV jangka panjang dengan metode transplantasi sel induk. Namun, perawatan transplantasi sel induk itu dinilai rumit dan sangat berisiko.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed