oleh

Selamat dari Taliban, Resor Ski di Pakistan Dibungkam Corona

Kompaspagi.com – Resor ski di Pakistan ini selamat dari tiga momen penting: kelamnya rezim Taliban, penghancuran bangunan, sampai banjir besar.

Di saat baru akan dibuka kembali, resor ski bernama Malam Jabba ini menghadapi tantangan baru, yakni pandemi virus corona.

Musim ski berakhir tiba-tiba pada bulan lalu, dengan resor ditutup karena jumlah kasus virus corona meningkat dan pemerintah Pakistan memberlakukan penguncian negara (lockdown).

“Kami berharap kondisi ini akan pulih dalam beberapa bulan ke depan,” kata Syed Adnan, juru bicara Malam Jabba, seperti yang dikutip dari AFP pada Jumat (10/4).

“Ini bukan kali pertama kami mendapat cobaan berat,” lanjutnya.

Hingga penutupannya pada bulan lalu, Malam Jabba telah dikunjungi oleh pemain ski internasional.

Resor ski ini diharapkan bisa mendongkrak popularitas pariwisata Pakistan di mata dunia.

Malam Jabba juga diharapkan bisa mengubah pandangan dunia terhadap Pakistan yang selama ini dianggap sebagai sarang teroris.

“Kami ingin menjadi destinasi ski orang-orang di dunia,” kata Jalal Bacha, kepala teknisi Malam Jabba.

Dengan medan yang terjal dan tebing yang dikelilingi pepohonan, sulit membayangkan Malam Jabba dan lembah di sekitarnya pernah dikuasai Taliban Pakistan pada tahun 2007 sampai 2009.

Berada di Lembah Swat (Swat Valley) yang dekat dengan perbatasan Afghanistan, pembangunan di Malam Jabba dimulai pada 1980-an dengan bantuan dari pemerintah Austria, yang mendanai fasilitas kereta gantung.

Pada awal 2000-an, resor ini mempekerjakan ratusan orang.

Gairah wisata dan bisnis terhenti ketika Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP, atau Taliban Pakistan) berkuasa.

Kelompok geriliyawan bermunculan dan menyebarkan teror di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Pada 2008, TTP menghancurkan bangunan hotel dan kereta gantung.

“Mereka memotong pilar kereta gantung dan menjual bajanya,” kenang Sayed Liaqat Ali, seorang pengemudi berusia 28 tahun yang mengatakan dua tantenya dibunuh oleh Taliban.

“Kedua tante saya pulang setelah jam malam sehingga mereka ditembak.”

Lebih dari satu dekade sejak hari-hari eksekusi publik dan hukum Syariah, serta banjir pada 2010, Malam Jabba kembali dibangun, berikut hotel dan kereta gantungnya.

Spot kaum hippies

Negara Pakistan yang miskin, yang berhutang miliaran dolar kepada Dana Moneter Internasional (IMF) dan China, sangat membutuhkan pendanaan, terutama demi menghidupkan kembali sektor pariwisatanya.

Tahun lalu, Islamabad memperkenalkan sistem visa elektronik, sehingga memudahkan pengunjung untuk datang.

Jumlah wisatawan internasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, lalu pandemi virus corona menghantam.

Selain wisata ski, Pakistan juga menjadi destinasi kaum hippies yang melakukan perjalanan dari Eropa ke India pada tahun 1960-an.

Namun semaraknya wisata di Pakistan langsung senyap setelah serangan 11 September 2001, yang menyoroti dukungan Islamabad untuk Taliban Afghanistan, yang berkawan dengan kelompok Al Qaeda.

Ditambah lagi dengan meletusnya banyak konflik berdarah domestik.

Pada tahun 2014, ada 5.575 wisatawan mancanegara yang datang dengan visa turis ke Pakistan.

Pada 2018, jumlah kunjungan tersebut naik menjadi 17.823.

Walau budaya Islam konservatif masih kental di sini, banyak pelancong yang sepakat bahwa Pakistan adalah destinasi wisata yang menakjubkan.

Mulai dari tempat bersejarahnya sampai alamnya.

“Potensinya sangat besar,” kata sineas Prancis Jerome Tanon, yang memproduksi film ski ekstrem di pegunungan Karakoram.

“Semua pendaki gunung setuju: Pakistan adalah berlian yang tidak dipoles.”

Saat ini, Pakistan hanya memiliki tiga area ski resmi, dua di antaranya milik tentara dan satu lagi belum terjamah. Pemerintah ingin membangun empat area ski baru.

Sekitar satu hari perjalanan dari Islamabad, desa Madaklasht memiliki jalur ski yang membentang sejauh sekitar lima kilometer.

Tidak ada hotel di sini, dengan satu-satunya akomodasi yang disediakan adalah rumah penduduk setempat.

Anak-anak main ski dengan peralatan dari kayu buatan tangan.

“Dengan penambahan perawatan dan infrastruktur, area ini dapat bersaing dengan resor internasional di mana pun,” kata Hasham Ul-Mulk, yang baru-baru ini menyelenggarakan festival olahraga musim dingin di Madaklasht.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed