oleh

Secercah Asa Driver Grab yang Kembali Narik saat New Normal

Kompaspagi.com – Budiyono menjadi salah satu pengemudi yang khusus ditunjuk Grab untuk menjadi relawan melawan wabah di Semarang. Ia beserta puluhan mitra driver lainnya bertugas untuk mengantar tenaga medis dari dan ke rumah sakit, sekaligus mengantarkan makanan untuk mereka.

Ditunjuknya Budiyono tak terlepas dari ketekunannya dalam bekerja. Dalam sehari, bisa ada 1.500 boks makanan yang diantar. Budiyono juga bertugas mengantar ke RS Ketileng dan RS dr. Kariadi, tentu di samping aktivitasnya menerima order seperti biasa.

“Waktu 24 jam dalam sehari sebisa mungkin saya manfaatkan dengan baik. Bekerja sekerasnya, beristirahat di antara waktu lengang. Hal ini semata-mata saya lakukan demi mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari,” ujar Budiyono dikutip dari keterangan Grab Indonesia, Kamis (11/6).

Untuk tetap aman kala membawa penumpang, Budiyono tentu dibekali GrabBike Protect untuk mengurangi risiko penyebaran virus selama perjalanan mengantar penumpang.

“Namun, alat itu bukanlah satu-satunya yang menjaga saya di jalanan. Saya juga diberikan masker, sarung tangan, hand sanitizer, disinfektan, jas hujan, serta penutup sepatu jika harus masuk ke dalam rumah sakit,” ujarnya.

Hand sanitizer selalu menjadi pembuka obrolan dia dengan penumpang. Bahkan tak jarang Budiyono menawari penumpang masker untuk orang-orang yang tak pakai.

“Iya, masih ada warga Semarang yang seperti itu [tidak pakai masker],” ujarnya.

Protector bisa mencegah droplet antara saya dan penumpang. Namun, ini juga membuat saya harus menaikkan volume suara dan menurunkan kecepatan supaya obrolan dengan penumpang nyambung.

“Mencoba ramah akan membawa saya dan penumpang ke dalam obrolan menarik sepanjang perjalanan.”

Juga Pegawai Kantoran

Selain nge-Grab, Budiyanto juga pegawai kantoran yang bekerja mulai dari pukul 08.00-16.00. Begitu selesai urusannya dengan kantor, ia melanjutkan jadi mitra pengantaran Grab.

“Sebelum wabah ini terjadi, saya melakukannya selama 12 jam, pukul 5 sore hingga pulang pukul 5 pagi.”

Ia melakukannya karena melihat peluang kota Semarang yang padat, sehingga mitra pengemudi bisa berpeluang dapat banyak order setiap harinya. Bahkan ia sampai ‘ngalong’ dan rela pulang malam.

“Saya mulai di wilayah pusat kota sampai tengah malam, lalu melipir ke stasiun pada tengah malam karena mengejar penumpang dari datangnya kereta di Semarang pada dini hari,” ujarnya.

Sebelum wabah datang, dalam kurun waktu 12 jam ia cukup beruntung bisa mendapatkan target pribadi per harinya. Malah ada kalanya lebih. Namun sejak Covid-19 datang dan pemasukannya dari narik Grab berkurang.

“Bisa dibilang, saya tidak bisa ngalong lagi dan harus menaati peraturan pemerintah. Tengah malam sudah waktunya untuk pulang. Namun, saya bersyukur tetap bisa melayani dan mencari rezeki,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed