oleh

Respons Ahli soal Klaim Penularan Virus Corona Melalui Kentut

-Kesehatan-14 views

Kompaspagi.com – Seorang dokter di Australia, Andy Tagg mengeluarkan pernyataan kontroversial. Tagg menyebut penularan virus corona jenis baru dapat terjadi melalui kentut.

Benarkah virus corona dapat menular melalui kentut?

Tagg mengklaim virus corona yang bernama SARS-CoV-2 bisa menular melalui kentut setelah melakukan serangkaian tes pada pasien positif infeksi virus corona (Covid-19).

Berdasarkan temuan Tagg, 55 persen pasien Covid-19 memiliki virus corona pada feses atau buang air besar mereka. Kentut yang keluar melalui saluran BAB itu disebut juga mengandung kotoran yang dapat menyebarkan bakteri dan virus.

“Ya, SARS-CoV-2 dapat dideteksi dalam feses dan telah terdeteksi pada individu tanpa gejala hingga 17 hari pasca-paparan. Mungkin SARS-CoV-2 dapat disebarkan melalui kentut, kita membutuhkan lebih banyak bukti,” kata Tagg.

Namun, pernyataan Tagg itu ditentang sejumlah ahli.

Menurut Direktur Klinis Patientaccess.com dokter Sarah Jarvis, sangat kecil kemungkinan seseorang akan tertular virus corona dari seseorang yang kentut.

“Kemungkinan seseorang tertular virus karena mereka dekat dengan seseorang yang kentut, sangat kecil. Anda jauh lebih mungkin untuk tertular melalui kontak dekat dengan seseorang yang batuk atau bersin, atau dengan menyentuh droplet di tanganmu ketika kamu menyentuh benda,” kata Jarvis, dikutip dari The Sun.

Dokter Norman Swan juga mengatakan tak perlu khawatir pada kentut karena terhalangi oleh celana.

“Kita selalu memakai masker (celana) yang menutup kentut kita setiap saat,” kata Swan dalam podcast Coronacast di ABC.

Pusat pengendalian dan Pencegahan Penyakit China juga mengatakan celana merupakan penghalang kentut yang mungkin membawa virus. Walaupun, kentut memiliki kemungkinan yang kecil untuk dapat membawa virus corona.

Senada dijelaskan pula oleh dokter Spesialis Baru, Erlang Samoedro yang menilai penularan virus corona melalui kentut sulit terjadi. Ia mengatakan, virus ini memang ditemukan pada feses, namun aerosolisasi ke udara bebas dinilai lebih kecil lantaran terhalang pakaian.

Kalaupun terdapat virus, toh orang telah mengenakan celana atau rok berbahan kain yang memungkinkan virus tersaring.

“Kalau mungkin [menular melalui kentut ya memang mungkin, tapi practical less likely,” tutur Erlang yang juga Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat.

“Sulit terjadi, karena kan kita pasti oakai celana atau kain yang menutupi. Sedangkan kalau dari mulut atau saluran napas–kalau tidak pakai masker–tidak tertutup sehingga change untuk terjadi penularan lebih tinggi,” kata dia lagi.

Kesangsian juga diungkapkan ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif. Ia mengatakan, virus corona memang boleh jadi ditemukan di feses orang yang positif terinfeksi Covid-19.

Hanya saja bagi dia, hipotesis yang muncul berupa penularan virus corona bisa terjadi melalui kentut itu tidak masuk akal.

“Omong kosong itu. Itu nggak benar, dan nggak masuk akal,” ucap Syahrizal kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

“Bahwa bisa jadi kita menemukan bahwa virus itu di feses, kalau itu sih saya merasa masih bisa. SARS juga waktu itu kita temukan di feses orang yang positif. Sampai di situ kita bisa terima, tapi bahwa ditarik kesimpulan lalu dibuat hipotesis baru bahwa ketut bisa [menularkan], itu sih saya juga enggak yakin bagaimana caranya membuktikan asumsi itu,” jelas Syahrizal yang juga ahli kesehatan masyarakat tersebut.

Ia juga meragukan, asumsi itu bisa dibuktikan secara ilmiah melalui metode penelitian.

“Mau dari sisi prosesnya atau lainnya, itu tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya ketika ada pernyataan bahwa virus bisa menular dari asap rokok orang yang terinfeksi, ini juga nggak ada dasar ilmiahnya,” pungkas dia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed