oleh

Rekomendasi Dokter soal Hydroxychloroquine untuk Covid-19

Kompaspagi.com – Sejumlah perhimpunan profesi dokter di Indonesia mengeluarkan rekomendasi penggunaan hydroxychloroquine atau klorokuin fosfat untuk pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19. Hydroxychloroquine merupakan obat yang dikenal untuk menangani pasien malaria dan penyakit autoimun, tapi penggunaannya menuai perdebatan ketika untuk Covid-19.

Kelima organisasi profesi dokter Indonesia itu antara lain Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Kumpulan perhimpunan dokter itu melayangkan surat rekomendasi penggunaan hydroxychloroquine atau klorouin fosfat ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih.

Menurut perhimpunan dokter, berdasarkan penelitian yang sedang dilakukan di seluruh Indonesia, penggunaan hydroxychloroquine tidak berkaitan dengan peningkatan kematian atau efek samping termasuk aritmia fatal. Penelitian ini masih terus dikerjakan untuk mendapatkan data yang valid tentang efektifitas penggunaan hydroxychloroquine untuk pasien Covid-19 di
Indonesia.

Berikut rekomendasi penggunaan hydroxychloroquine atau klorokuin fosfat untuk pasien Covid-19, berdasarkan surat rekomendasi yang diterima CNNIndonesia.com.

1. Pemberian hydroxychloroquine untuk penatalaksanaan Covid-19 di Indonesia masih dapat dilakukan dengan dosis sesuai protokol tatalaksana Covid-19 dari lima organisasi profesi.

2. Untuk pasien anak dengan kondisi berat-kritis, pemberian hydroxychloroquine harus dengan pemantauan dan pertimbangan khusus.

3. Pemberian hydroxychloroquine tidak dianjurkan kepada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun dan tidak diberikan pada pasien kritis yang masih dalam keadaan syok dan aritmia.

4. Memperhatikan untuk yang komorbid (penyakit penyerta), terutama komorbid kardiovaskular, perlu adanya penjelasan informasi terkait indikasi dan efek samping obat yang mungkin dapat terjadi sebelum diberikan obat hydroxychloroquine. Pasien yang mendapatkan hydroxychloroquine perlu dipantau secara interval QT dari EKG sesuai protokol tatalaksana Covid-19 dari lima organisasi profesi.

5. hydroxychloroquine tidak diberikan kepada pasien rawat jalan.

Sebelumnya diketahui penggunaan hydroxychloroquine menuai perdebatan di banyak negara, termasuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

WHO sempat menangguhkan sementara uji coba dan penggunaan hydroxychloroquine untuk pasien Covid-19. Namun pada Rabu (3/6), organisasi kesehatan dunia itu kembali melanjutkan uji coba klinis hydroxychloroquine .

Sementara berdasar rekomendasi Badan POM, efek samping yang paling umum dilaporkan dari penggunaan hydroxychloroquine atau klorokuin fosfat di antaranya sakit perut, mual, muntah, dan sakit kepala. Efek samping ini seringkali bisa dikurangi dengan mengonsumsi hidroxychloroquine dengan makanan.

Akan tetapi, efek samping itu juga sangat dipengaruhi kondisi masing-masing individu. Karena itu jika mengalami detak jantung tidak teratur, turunnya gula darah yang umumnya ditandai gejala gemetar atau keringat dingin, kejang, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kelemahan otot, memar di kulit atau gatal-gatal maka BPOM menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Itu sebab sejak awal para ahli, dokter termasuk BPOM memperingatkan bahwa penggunaan hidroxychloroquine harus dalam pengawasan dokter.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed