oleh

Pengalaman Saya Saat Merawat Ibu Positif Covid-19

Kompaspagi.com – Jika kapasitas ruang perawatan tidak mencukupi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan mengkarantina pasien Covid-19 dengan gejala ringan dan tidak ada penyakit kronis di rumah. Namun, merawat pasien Covid-19 yang positif sendirian di rumah tidak selalu mudah karena keterbatasan peralatan pelindung pribadi sehingga risiko penularan menjadi besar. Mendapatkan informasi dari dokter dan Internet, serta kepatuhan, adalah kunci keberhasilan mereka yang dipaksa menjadi perawat dadakan. Hal yang sama dilakukan oleh Caecilia Kapojos yang harus merawat ibunya, Jeanne (74), yang telah terinfeksi mahkota tetapi diminta pulang setelah dirawat selama 3 hari di ruang isolasi di sebuah rumah sakit swasta di kota Makassar. “Selama ibu di rumah sakit kami dia berkomunikasi hanya melalui video call karena aku di Jakarta. Saat itu pernapasan ibuku dalam kesulitan, bahkan suaranya lambat,” katanya Cecilia.

Saat berada di ruang isolasi, menurut Cecilia, ibunya merasa kesepian, lemah dan tertekan secara mental. Prihatin dengan kondisi ibunya yang memburuk, ia membeli tiket pesawat pada 30 Maret untuk kembali ke Makassar. Karena Jeanne bersikeras untuk pulang, dokter akhirnya menyerah dan mengizinkannya dirawat di rumah oleh Cecilia. Sekembalinya dari rumah sakit, dokter memberinya obat-obatan, termasuk obat batuk, obat lambung, anti mual, obat antibiotik untuk paru-paru dan klorokuin. Namun, obat akhirnya dihentikan oleh dokter karena ia dicurigai sebagai penyebab jamur di lidah dan pasien tidak nafsu makan. Di rumah, semua kondisi pasien dipantau oleh dokter melalui aplikasi WhatsApp. “Saya diminta memantau nafas, menghitung nafas per menit dan secara berkala merekam video wajah dan dada pasien, kondisi lidah dan bibir ketika dia kesulitan makan. Ketika pasien berjalan, mereka juga harus merekam,” katanya. . Wanita yang bekerja di sebuah perusahaan PR mengatakan bahwa dia menghadapi banyak tantangan saat merawat ibunya. “Selama 5 hari pertama kondisi ibuku cukup parah. Napasnya mengi, tubuhnya lemah, batuk, tanpa nafsu makan karena dia merasa lidahnya pahit dan dahak terus menggunakan jaringan,” katanya.

Sulit untuk dijauhkan kata Cecilia, selama seorang perawat tidak mengenakan alat pelindung diri. Namun, dengan patuh ia selalu memakai topeng, mencuci tangannya secara teratur dan sering berganti pakaian. “Saya bahkan tidak takut terkena infeksi, saya mengundurkan diri. Alih-alih Covidiot, saya tetap menuruti menjaga jarak fisik, menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi vitamin,” katanya. Meski begitu, Cecilia mengakui bahwa ketika kondisi ibunya masih lemah, dia merasa sulit untuk menjaga jarak karena untuk banyak hal dia masih harus membantunya. “Dengan mengemudi di kamar mandi, berganti cuddle, tangan juga harus dibawa bolak-balik di kamar mandi karena diare, seperti menjaga jarak fisik,” katanya. Dia bersyukur bahwa kondisi ibunya berangsur membaik setelah hampir seminggu. Namun, dia awalnya takut bahwa dia tidak bisa merawat ibunya sampai dia sembuh. “Yang paling ditakuti adalah jika dia tidak dapat memotivasi ibunya untuk mau makan, minum obat dan mengikuti saran dokter. Lebih lanjut, ibu sering mengeluh karena adik laki-laki tidak pulang dan masih meminta pendeta untuk datang untuk berdoa, “katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed