oleh

New Normal Berobat ke Rumah Sakit di Masa Pandemi

-Kesehatan-16 views

Kompaspagi.com – Pandemi virus corona membuat orang enggan ke rumah sakit karena takut tertular virus mematikan itu. Namun, berobat ke rumah sakit seringkali tak bisa ditunda. Masa pandemi ini menuntut rumah sakit berbenah menghadapi new normal.

New normal berobat ke rumah sakit di masa pandemi ini berdampak pada sejumlah perubahan. Berobat ke dokter bakal berbeda dibandingkan dengan saat sebelum ada virus corona penyebab Covid-19.

Rumah sakit bakal menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk seluruh pengunjung, mulai dari pasien, keluarga atau pendamping pasien, hingga orang-orang yang bekerja di rumah sakit.

Protokol kesehatan itu meliputi penggunaan masker, penerapan jaga jarak atau social distancing, hingga pengecekan kesehatan awal.

“Semua pengunjung wajib menggunakan masker dan melalui screening kesehatan awal. Para petugas rumah sakit akan melakukan pengukuran suhu, pengecekan fisik, dan wawancara mengenai kondisi kesehatan serta riwayat kontak dengan wilayah atau orang lain yang terindikasi Covid-19,” kata CEO Primaya Hospital Group dokter Ferdy D Tiwow, dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (3/6).

Ferdy menjelaskan rumah sakit-rumah sakit Primaya Hospital Group akan membedakan alur masuk dan ruangan pasien yang tidak lolos pengecekan kesehatan awal.

Seluruh petugas di rumah sakit juga mesti menggunakan alat pelindung diri.

Kebangkitan Telemedis

Di sisi lain, virus corona juga menuntut revolusi teknologi di rumah sakit. Mulai dari pendaftaran secara online untuk mengurangi penumpukan di ruang tunggu hingga konsultasi online melalui website atau aplikasi video.

“Praktek dokter telah mengalami perubahan signifikan dalam cara dokter memberikan perawatan pasien selama pandemi, dan kecepatan perubahan ini sangat luar biasa,” kata kepala Royal College of GPs, Profesor Martin Marshall kepada AFP.

Penyebaran virus corona yang masif membuat sejumlah otoritas kesehatan di Eropa dan Amerika Serikat melonggarkan aturan mengenai penerapan telemedis (telemedicine) atau medis jarak jauh. Amerika Serikat misalnya mengizinkan orang menggunakan aplikasi seperti Skype dan FaceTime untuk berobat.

“Orang-orang sekarang melakukannya, yang kami pikir membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan. Dan itu mungkin lebih cepat satu dekade,” kata konsultan kebijakan AS Chris Jennings.

Berdasarkan data WHO, secara global terdapat 58 persen negara menggunakan telemedis. Data dari NHS Inggris menyebut terdapat 1,2 juta konsultasi jarak jauh terjadi setiap hari dalam beberapa minggu terakhir.

Telemedis memungkinkanpemeriksaah suhu dengan termometer, oksimeter denyut nadi untuk mengukur kadar oksigen, dan perangkat pintar yang memantau tanda-tanda vital, yang semuanya terhubung ke internet. Hal ini memudahkan dokter memantau kondisi pasien dari jarak jauh.

Telemedis juga memberikan kemudahan pada orang-orang yang berada di daerah terpencil untuk mendapatkan akses kepada pengobatan.

Di sisi lain, teknologi jarak jauh untuk berobat di masa new normal ini juga memiliki sejumlah tantangan. Banyak orang yang mengeluhkan gangguan saat berkonsultasi.

“Konsultasi video pertama saya berantakan. Ada yang sedang melakukan pengeboran, mikrofon tidak berfungsi, seorang kolega berjalan masuk,” kata seorang dokter di Imperial College London, Camille Gajria dikutip dari AFP.

Gajria menyebut dokter juga sulit memberikan penilaian mengenai kondisi pasien yang sebenarnya karena dilakukan secara online.

Selain itu, sejumlah perawatan juga tetap memerlukan pertemuan langsung. Misalnya, vaksinasi, tes darah, dan pemeriksaan fisik tidak bisa dilakukan dari jauh.

Perihal telemedis, dokter kesehatan olahraga Michael Triangto saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu juga mengungkapkan bahwa telemedis atau dokter online masih akan jadi pilihan sampai beberapa waktu ke depan.

“Masih ada yang akan parno untuk ke dokter tapi butuh. Telemedis ini mungkin tidak ideal dan tidak nyaman, tapi sampai saat ini itu yang bisa dilakukan, setidaknya sampai akhir tahun.”

“Tapi di sisi lain, karena dokter online ini tidak bisa memeriksa secara langsung dan akurat, hanya berdasarkan lisan dari omongan pasien dan memprediksinya dari situ, jadi dokter akan jadi lebih hati-hati saat memberikan obat.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed