oleh

Kuchisabishii, saat Mulut Rindu Mengunyah Tanpa Sadar

Kompaspagi.com – Apakah Anda sering mencari-cari makanan yang bisa dikunyah, bahkan saat tidak merasa lapar? Jika iya, maka berarti mulut Anda sedang ‘kesepian’.
‘Kuchisabishii’ merupakan salah satu istilah populer di Jepang yang secara harfiah berarti ‘mulut kesepian’. Istilah ini merujuk pada kerinduan seseorang untuk mengunyah atau memasukkan sesuatu ke dalam mulut tanpa harus merasa lapar.

“Orang-orang menggunakan istilah ini untuk menggambarkan kebiasaan makan saat merasa bosan atau suntuk,” ujar ahli bahasa Jepang, Kevin Mark, mengutip Huffington Post.

Belakangan, istilah ‘kuchisabishii’ mendadak ramai digunakan masyarakat Jepang. Pandemi Covid-19 membuat ‘kuchisabishii’ naik daun.

Banyak orang mengeluhkan kebiasaan makannya yang berubah selama masa karantina. Makan jadi pelampiasan dari rasa bosan saat ‘terkurung’ di dalam rumah.

Aktivitas makan itu bahkan dilakukan saat perut tak merasa lapar. Vanessa Villalobos, misalnya, seorang instruktur Jepang di Inggris mengaku bahwa mulutnya merasa kesepian.

“Aku seperti Pac-Man. Mulut terbuka, menjelajahi sudut-sudut, mencari camilan,” kata Villalobos.

Dalam dunia psikologi, ‘kuchisabishii’ dikenal pula dengan istilah ‘mindless eating’. Mindless eating sendiri merupakan istilah yang menggambarkan kebiasaan makan bawah sadar yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

“Rumah kita dipenuhi oleh jebakan makan yang tersembunyi,” ujar Brian Wansink, psikolog yang fokus pada kebiasaan mindless eating, mengutip situs American Psychological Association.

Kebosanan menjadi salah satu hal yang kerap jadi pemicunya. Tekanan dalam hidup, kata Wansink, membuat banyak orang justru fokus pada setiap gigitan.

Tak hanya rasa bosan, beberapa hal sepele lain dalam kehidupan sehari-hari juga bisa memicu mindless eating. Misalnya saja ukuran wadah atau piring yang digunakan saat makan.

“Orang tidak berpikir bahwa sesederhana ukuran mangkuk saja akan memengaruhi seberapa banyak yang dimakan,” ujar Wansink.

Wansink sendiri telah melakukan sejumlah studi yang berusaha membuktikan klaim tersebut. Hasilnya, semakin besar wadah yang digunakan, semakin banyak makanan yang masuk ke dalam mulut. “Mereka hanya tidak menyadari bahwa mereka makan lebih banyak dari biasanya,” kata dia.

Sebuah studi pernah dilakukan terhadap kebiasaan sarapan sereal pada anak-anak. Kelompok anak pertama diminta untuk mengonsumsi sereal dalam mangkuk berkapasitas 0,5 liter, sementara kelompok kedua sarapan sereal dalam mangkuk berkapasitas 0,25 liter. Hasilnya, anak yang makan dengan mangkuk lebih besar, makan sereal lebih banyak daripada mereka yang makan dalam mangkuk lebih kecil.

Pada intinya, banyak orang yang tak sadar akan jumlah makanan yang dikonsumsinya. Wansink menolak anggapan yang menyarankan orang untuk makan hingga perut merasa kenyang. Alih-alih memberikan sinyal kenyang, lanjut dia, perut bisa saja berbohong.

“Pelajarannya adalah, jangan mengandalkan perutmu untuk memberitahu berhenti makan saat kenyang. Perut bisa berbohong,” kata Wansink.

Untuk mengatasinya, Wansink menyarankan untuk menciptakan lingkungan yang ramah untuk perut Anda. Mulai dari menggunakan wadah makan yang lebih kecil hingga menjauhkan penyimpanan camilan-camilan tidak sehat dari pandangan mata.

Sebuah studi yang dilakukan Wansink menemukan bahwa berat badan bisa turun saat seseorang membuat beberapa perubahan sederhana. Beberapa perubahan itu di antaranya makan dengan piring kecil, menjauhkan camilan tidak sehat dari pandangan mata, dan makan di dapur atau ruang makan.

“Strategi sederhana ini jauh lebih mungkin berhasil untuk menjaga berat badan. Lebih mudah untuk mengubah lingkungan daripada mengubah pikiran Anda,” kata Wansink.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed