oleh

Kronologi Kejadian ABK WNI Meninggal Dalam Kapal China

Kompaspagi.com – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan kronologi kematian empat warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi anggota ABK di kapal penangkap ikan yang mengibarkan bendera Tiongkok.

Total kru, yang meninggal di kapal milik perusahaan Cina, memiliki empat orang. Seseorang dikatakan telah meninggal di darat setelah evakuasi dari kapal. Warga meninggal di pusat medis Busan dengan dugaan pneumonia dan satu orang meninggal di laut yang jenazahnya dilarang di laut.

Sementara dua orang lainnya tewas dalam perjalanan ke Samudra Pasifik. Larangan terhadap tiga mayat secara terpisah, kata Retno, sesuai dengan aturan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Larangan itu juga dilaksanakan dengan persetujuan keluarga dan keluarga almarhum bersedia menerima kompensasi dari perusahaan atas kematian ABK WNI.

“Dua dari mereka yang meninggal di Pasifik dan tubuh mereka dimakamkan di laut kata Retno saat konferensi pers melalui konferensi video conference, Jumat (8/5/2020).

Retno menjelaskan bahwa secara total ada 46 awak kapal tersebut adalah Longxin 629 yang berisi 15 anggota awak Indonesia, Longxin 605 yang mencakup delapan anggota awak Indonesia, Longxin 606 berisi 20 anggota awak Indonesia dan sebanyak tiga anggota awak Indonesia yang ada di nomor kapal Tian Yu 8.

Dari total empat kapal yang mengangkut 46 awak kapal, Retno mengakui bahwa partainya telah menerima laporan terkait dengan awak kapal Indonesia yang tewas di salah satu kapal sejak 14 April 2020. Saat itu, Partai juga menerima laporan bahwa dua dari empat kapal berlabuh di Busan.

“Longxin 605 dan Tian Yu 8 [kapal akan berlabuh]. Ini adalah informasi yang diterima pada 14-16 April 2020,” kata Retno.

Kedutaan Indonesia di Seoul mengatakan bahwa Retno segera mencari informasi terkait kapal yang membawa warga negara Indonesia. Dari pencarian kedutaan Indonesia ke berbagai bagian Seoul, hanya pada 23 April 2020 dia mendapatkan informasi terperinci tentang masalah ini.

“Pertama, Longxin 605 dan Tian Yu 8, yang membawa 40 kru Indonesia, berlabuh di Busan dan berlayar ke Cina,” kata Retno.

Namun, ada informasi lain yang terkait dengan masalah ini. Retno mengungkapkan bahwa kedua kapal telah ditangkap karena ada 35 anggota awak Indonesia yang tidak terdaftar di kedua kapal, yaitu 15 warga negara Indonesia yang seharusnya terdaftar di kapal Longxin 629 dan 20 anggota awak yang terdaftar pada Longxin 606 mereka benar-benar diangkut oleh dua kapal lain, yaitu Longxin 605 dan Tian Yu 8.

“Jadi itu berarti 35 anggota kru Indonesia tidak terdaftar di Longxin 605 dan Tian Yu 8. Mereka tidak dianggap sebagai kru oleh otoritas pelabuhan Busan, tetapi dianggap sebagai penumpang,” katanya.

Meski begitu, 15 anggota awak yang awalnya terdaftar di kapal Longxin 629 dapat diturunkan dari kapal karena alasan kemanusiaan. Anggota kru saat ini sedang dikarantina di sebuah hotel di Busan selama 14 hari.

“Selain itu, 20 kru Indonesia terdaftar di kapal 606 Longxin, 18 di antaranya kembali ke Indonesia pada 3 Mei 2020. Sisanya masih dalam proses imigrasi Korea untuk dipulangkan ke Indonesia,” katanya.

Sayangnya, satu dari 15 warga negara Indonesia yang berhasil diturunkan pangkat dan dikarantina di Busan mengeluh sakit. “Atas permintaan kedutaan Indonesia, agen membawa [EP] ke rumah sakit, tetapi saudara EP meninggal di rumah sakit. Dari deskripsi pusat medis Busan, dia meninggal karena pneumonia,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed