oleh

Kemeriahan Dendang ‘Havana’ yang Tak Lagi Terdengar di Kuba

-Traveling-17 views

Kompaspagi.com – Sebelum pandemi virus corona, lagu ‘Havana’ yang dinyanyikan Camila Cabello mengundang kedatangan jutaan turis ke ibukota Kuba itu, sebelum kini berubah bak kota hantu.

Mobil klasik beratap terbuka dan bercat pastel yang biasanya wara-wiri di jalanan kini terpaksa berada di dalam garasi karena tidak ada turis yang datang untuk menumpanginya.

Sebagian besar restoran dan kafe juga terlihat tutup.

Sektor swasta Kuba telah menderita sejak negara kepulauan itu menutup perbatasannya demi mencegah meluasnya pandemi virus corona.

Di gedung tua lokasi syuting film komedi ‘Strawberry and Chocolate’ (1993), tangga spiral mengarah ke restoran terkenal La Guarida yang ditutup hingga batas waktu yang tak ditentukan.

“Kami memutuskan untuk menutup restoran mulai 15 Maret, sembilan hari sebelum pemerintah Kuba memberlakukan pembatasan perjalanan,” kata Enrique Nunez, pemilik restoran yang juga disebut ‘paladar’ itu.

Hingga hari Sabtu (18/4), negara berpenduduk 11,2 juta orang ini memiliki hampir 1.000 kasus infeksi virus corona dan 32 kematian.

Restoran milik Nunez biasanya melayani 200 orang setiap harinya.

Paladar disebut sebagai salah satu tempat yang wajib didatangi di Kuba, terutama setelah kedatangan banyak selebriti seperti Beyonce, Madonna, sampai Pedro Almodovar, yang fotonya terpajang di dinding restoran.

“Itulah alasan utama kami menutup restoran ini untuk sementara, karena banyak orang yang datang ke Havana untuk mengunjungi La Guarida.”

Sektor pariwisata terus berjuang

Di negara komunis ini sekor bisnis swasta mulai mendominasi, dengan lahan pekerjaan yang telah diisi 635 ribu orang, atau 14 persen dari tenaga kerja di Kuba.

Penduduk Kuba juga mulai banyak yang menyewakan kamar untuk turis, membuka restoran kecil, atau salon.

“Banyak sektor bisnis swasta dibuka setelah kedatangan turis, karena tidak ada penduduk Kuba yang pergi ke restoran dan menghabiskan US$100 hanya untuk makan-makan,” kata ekonom Omar Everleny Perez.

Lockdown tentu saja membuat sektor usaha swasta di Kuba kesusahan, terutama dalam hal membayar gaji pekerja dan pajak.

Pandemi virus corona juga diperparah dengan sanksi yang diberikan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

“Sektor swasta sudah berjuang, terutama di Havana, setelah kapal pesiar Amerika berhenti datang sejak Juni 2019 karena sanksi baru,” kata Perez.

Itu berarti bahwa pada 2019, jumlah wisatawan di Kuba turun 9,3 persen menjadi 4,3 juta.

Selama beberapa tahun terakhir, turis asal Amerika telah menjadi kelompok wisatawan terbesar kedua setelah turis asal Kanada, berkat mencairnya ketegangan dengan Amerika Serikat sejak 2014, di bawah pemerintahan Barack Obama.

‘Maaf kami tutup’

Pada Januari dan Februari, jumlah wisatawan di Kuba turun 16,5 persen dari tahun sebelumnya, dengan penurunan 65 persen untuk turis asal Amerika.

Sektor wisata, penghasil pendapatan terbesar kedua di negara kepulauan itu, bernilai US$3,3 miliar pada 2018.

“Maaf kami tutup,” tulis tanda yang dipasang di pintu masuk El Cafe, sebuah kedai kopi populer di Havana.

Loliet Gonzalez (25), seorang mahasiswa psikologi yang bekerja di sana selama dua tahun, mengatakan penghasilannya selama ini “memungkinkan saya untuk memiliki kualitas hidup yang saya inginkan.”

Bosnya memberi gajinya dua minggu untuk membuatnya bertahan melewati krisis.

“Untuk saat ini saya baik-baik saja, tetapi akan tiba saatnya ketika saya harus mencairkan tabungan,” kata Gonzalez.

Pemiliknya, Nelson Rodriguez, sudah punya rencana saat perusahaan swasta Kuba tidak dapat mengandalkan turis dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

“Jika tidak ada turis, kita harus fokus pada orang-orang Kuba, jadi mungkin kita harus menyesuaikan bisnis kita dengan pendapatan penduduk setempat,” kata Rodriguez.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed