oleh

Jokowi Ambil Alih, Buka Jalan untuk Risma, Megawati Tak Kuat Lawan Anies

-Politik-3 views

Tentu tidak pernah terpikirkan oleh Megawati dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kalau mereka akan dikalahkan Anies Baswedan dalam pilgub DKI Jakarta 2017. Menurut hasil hitung berbagai lembaga survei saat itu Ahok di atas angin. Bahkan Ahok dengan sedikit jumawa berkata kalau rakyat DKI Jakarta tidak senang kepadanya dan merasa ada orang yang siap bekerja lebih baik darinya silakan pilih dia.

Bahkan dalam acara Indonesia Lawyer Club Ruhut Sitompul yang saat itu menjadi Tim Sukses Ahok berkata dengan percaya diri,” kalau pilgub DKI Jakarta diadakan satu putaran Ahok menang, kalau pilgub DKI Jakarta diadakan dua putaran Ahok juga akan menang.”

Namun tampaknya baik PDIP, Megawati, seluruh pendukung Ahok, bahkan Ahok sendiri terlalu meremehkan lawannya tersebut. Kelompok pertahana terlalu meremehkan kehadiran Agus Harimurti Yudhoyono yang memecah komposisi suara. Seandainya petahana dari awal tidak meremehkan kehadiran Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono pasti pertahana akan mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Memang kekalahan Ahok tidak bisa dilepaskan dari blunder “isu penistaan agama.” Namun kejadian itu tentu akan mempengaruhi sikap partai pengusung dalam menghadapi Anies Baswedan ke depan. Apalagi biasanya pertahana memiliki banyak keunggulan dalam mengkampanyekan dirinya.

Atas kejadian ini berikut beberapa analisa yang dapat dihadirkan.

Pertama, memaksakan Risma menjadi menteri sosial disaat masih menjabat sebagai walikota Surabaya tampaknya adalah kegugupan PDIP dalam menghadapi Anies ke depan. Walaupun Anies Baswedan berpotensi dirugikan dikarenakan Pilkada serentak yang diadakan di tahun 2024, di mana artinya Anies akan menganggur dua tahun dikarenakan jabatannya selesai di Tahun 2022.Namun hal itu tidak menjadikan usaha untuk mengalahkan Anies dengan intensitas yang tinggi surut.Tentu ini dikarenakan kekalahan Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta yang lalu.

Kedua, dalam hal ini Megawati mau tak mau harus memanfaatkan senjata terbaiknya yaitu Presiden Jokowi. Mantan Walikota Solo tersebut adalah sosok yang mampu membawa PDIP berjaya dalam 10 tahun terakhir. Megawati juga sadar bahwa kadernya itu lebih lihai dan licin dibandingkan dirinya. Maka Megawati harus memanfaatkan Jokowi sebagai otak dalam menyusun skema memenangkan pilgub DKI Jakarta sekaligus Pilpres tahun 2024.

Ketiga, hal itu terlihat dari usaha membawa Risma ke panggung nasional yang lebih besar. Seolah keuntungan ada di pihak PDIP, Menteri Sosial Juliari batubara tersandung kasus korupsi yang membuat Risma dapat lebih bersinar jika mampu membawa Kementerian Sosial kembali dipercaya masyarakat.Dengan menjadi Menteri sorotan pada Risma akan lebih besar dan otomatis elektabilitasnya akan naik.

Keempat, di lain sisi peluang Anies Baswedan untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden sebisa mungkin ditutup.Itu dengan strategi membuat koalisi gemuk hingga menundukkan Gerindra di bawah kepemimpinan Jokowi. Saat ini nyaris Partai Keadilan Sejahtera yang berjalan sendirian, dan tampaknya tidak cukup kuat untuk menjadi kendaraan Anies dalam pilpres 2024.

Kelima, secara politis tindakan membubarkan Front Pembela Islam juga jadi bagian menghancurkan kekuatan Anies Baswedan yang sudah menggelembung dalam sebuah komunitas besar. Dengan dibubarkannya Front Pembela Islam Anies Baswedan butuh kendaraan baru untuk memunculkan keunggulannya ke permukaan. Dalam hal ini Anies sangat dekat dengan kelompok Islam di Jakarta yang berpotensi diikuti kelompok Islam di berbagai daerah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed