oleh

Doni Monardo: Lonjakan Corona Jatim karena Tes PCR Masif

Kompaspagi.com – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyatakan jumlah kasus virus corona (covid-19) yang tinggi di Jawa Timur (Jatim) tak lepas dari uji tes PCR yang semakin masif.

Jatim diketahui termasuk provinsi dengan jumlah kedua terbanyak secara nasional setelah DKI Jakarta.

“Semakin banyak kita periksa, semakin banyak kasus yang terkonfirmasi. Seperti halnya Jatim karena jumlah PCR mesin makin banyak,” ujar Doni dalam jumpa pers usai rapat terbatas dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Kamis (4/6).

Selain itu, lanjut Doni, kemampuan untuk menjaring Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga semakin besar. Atas hal tersebut, Gugus Tugas pun memastikan ketersediaan layanan rumah sakit demi menangani pasien yang sakit.

Kepala BNPB itu juga telah mengimbau pada pemerintah provinsi Jatim agar para pasien corona yang sudah sembuh di sana dapat menyumbangkan plasma darah bagi pasien sakit. Imbauan serupa, kata Doni, juga disampaikan ke Pemprov DKI Jakarta.

Untuk diketahui, terapi plasma darah merupakan salah satu upaya guna menyembuhkan pasien yang positif corona.

“Kami semalam vidcon [konferensi video] dengan Gubernur DKI, ada sekitar 2.500 keluarga yang sembuh dari covid diharapkan bersedia menyumbangkan plasmanya. Demikian juga di Jatim ada 699 pasien positif yang sudah sembuh. Jadi semua warga yang sembuh diharapkan bersedia mendonorkan plasmanya ke Dinas Kesehatan,” beber Doni.

Merujuk pada https://infocovid19.jatimprov.go.id/, per 4 Juni 2020 petang, ada 5.406 kasus positif Covid-19 di Jawa Timur. Sebanyak 1.207 sembuh, dan 447 meninggal.

Episentrum atau kasus terbanyak Covid-19 adalah Kota Surabaya dengan jumlah kasus positif total mencapai 2.828 orang, di mana 610 sembuh dan 258 meninggal.

Kota Surabaya di Jatim sempat dikhawatirkan menjadi wilayah dengan sebaran corona tertinggi di Indonesia.

Bahkan Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi secara terang-terangan mengaku khawatir dengan kondisi penularan corona di Surabaya. Dia sempat menyebut Surabaya disebut berpotensi menjadi kota Wuhan, China, tempat pertama kali Covid-19 ditemukan sebelum menjadi pandemi global.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed