Gresik – Polres Gresik menjadi lokasi pelaksanaan Management Course Level III Peserta Didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg ke-66 T.A. 2026, Kamis (26/2). Kegiatan ini menjadi bagian dari praktik kepemimpinan lapangan bagi perwira menengah serdik Sespimmen Polri.
Supervisi kegiatan dipimpin Irjen Pol Jawari. Dalam arahannya, Jawari menegaskan bahwa pendidikan kepemimpinan tidak berhenti pada teori di ruang kelas, melainkan harus diuji melalui praktik nyata di lapangan.
Jawari menekankan bahwa inti dari kepemimpinan adalah keberanian dan ketepatan dalam mengambil keputusan. “Seorang pemimpin identik dengan pengambilan keputusan. Sebelum memutuskan, harus mampu memetakan tantangan tugas di luar, membaca dinamika sosial, ekonomi, serta potensi gangguan kamtibmas,” tegasnya.
Menurutnya, para peserta didik Sespimmen saat ini sedang ditempa untuk menjadi pengambil kebijakan di level strategis. Karena itu, para bakal calon kapolres itu harus mampu melakukan berbagai hal.
Antara lain mengidentifikasi persoalan secara komprehensif. Mengolah data dan informasi lintas sektor. Mengedepankan kolaborasi dalam penyelesaian masalah. Hingga engambil keputusan berbasis risiko (risk based decision making).
Ia juga meminta dukungan dari seluruh stakeholder di Gresik agar para peserta mendapatkan gambaran riil persoalan daerah, mulai dari sektor pangan, distribusi logistik, hingga stabilitas ekonomi masyarakat.
Masih menurut Jawari, bahwa tema latihan kepemimpinan kali ini selaras dengan kebijakan Presiden RI, khususnya terkait ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi nasional.
Ia mengapresiasi capaian Kabupaten Gresik yang masuk lima besar ketahanan pangan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian tersebut harus terus dijaga melalui sistem pengawasan distribusi, pengamanan stok, serta stabilitas harga.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga distribusi, cadangan, serta pengamanan dari potensi gangguan. Di sinilah peran Polri sebagai stabilisator,” ujarnya.
Jawari menambahkan, kepemimpinan Polri ke depan dituntut mampu membaca ancaman non-konvensional, seperti disrupsi rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, ampak perubahan iklim terhadap produksi pangan hingga potensi konflik sosial akibat kesenjangan ekonomi.
Dalam forum tersebut, Jawari juga menyoroti pentingnya dukungan data dari instansi terkait, termasuk Bulog dan BPS. Data menjadi dasar dalam menentukan kebijakan yang presisi. “Kepemimpinan modern berbasis data. Tanpa data yang akurat, keputusan bisa keliru dan berdampak luas,” tandasnya.
Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama antara serdik dan pemangku kepentingan daerah, sehingga lahir model kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika wilayah.
Sementara itu, Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution dalam sambutannya menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar agenda pendidikan, tetapi juga ruang kolaborasi. “Kami juga berharap ada saran dan masukan yang bisa diterapkan di Kabupaten Gresik, sehingga kamtibmas semakin kondusif,” ujarnya.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menyampaikan bahwa stabilitas daerah sangat bergantung pada sinergi seluruh stakeholder. Menurutnya, tantangan kamtibmas di Gresik semakin kompleks seiring perkembangan sektor industri, pertanian, dan pertumbuhan ekonomi.
“Stabilitas daerah hanya bisa terwujud apabila kamtibmas terjaga dengan baik. Sinergi lintas sektor menjadi kunci,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata, foto bersama, serta diskusi pengamatan OHA (Organizational Health Assessment). Seluruh agenda berlangsung aman dan lancar.(*)
